Seputar Peradilan

SEPENGGAL CERITA PERJUANGAN DARMAYUKTI KARINI (DYK) CABANG PENGADILAN AGAMA SUKAMARA DALAM MENGHADIRI KEGIATAN DYK CABANG PANGKALAN BUN DI PANGKALAN BUN

IMG-20190726-WA0019.jpg

DYK Cabang Pangkalan Bun (DYK PN & PA Pangkalan Bun dan DYK PA Sukamara berfoto bersama Para Pimpinan Ketiga Pengadilan dan Para Penerima BDBS

Sukamara|PA.Sukamara (Sabtu, 26 Juli 2019). Seperti telah kami wartakan sebelumnya bahwasannya semata olehnya belum ada Pengadilan Negeri yang berkedudukan di Kabupaten Sukamara, maka secara aturan DYK Cabang Pengadilan Agama Sukamara untuk sementara harus bergabung atau menginduk dengan DYK Cabang Pangkalan Bun. Dan Alhamdulillah pada hari Jum’at siang tanggal 26 Juli 2019 pukul 14.00 wib, DYK Cabang Pengadilan Agama Sukamara untuk kesekian kalinya dapat menghadiri kegiatan DYK Cabang Pangkalan Bun di Kantor Pengadilan Negeri Pangkalan Bun.

Berikut sedikit cerita di balik menghadiri kegiatan DYK di Pangkalan Bun tersebut :

Lia Agustin, S.Pd. M.Pd. istri dari Apriansyah, S.H. Jurusita Pengadilan Agama Sukamara yang karena statusnya sebagai Aparatur Sipil Negara di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kotawaringin Timur tepatnya di SMA 1 Sampit, maka untuk menuju ke Kota Manis Pangkalan Bun, selaku Guru PNS dimana ia tidak bisa seenaknya meninggalkan tugas mengajarnya, selain ia tidak mempunyai hak cuti tahunan, maka ia harus terlebih dahulu meminta izin kepada Kepala Sekolah di mana ia bernaung. Kemudian olehnya ia dan anak-anaknya berdomisili tetap di Sampit, sementara kegiatan dilangsungkan di Pangkalan Bun, maka ia pun harus berangkat ke Kota Manis tersebut yang standar estimisasi jarak tempuhnya adalah 4 jam. Dan di Kamis dini hari, dengan pertimbangan bisa tiba di Pangkalan Bun di hari Jum’at pagi harinya dan kemudian ia bersama kedua anaknya bisa cukup beristirahat menghilangkan rasa lelahnya sebelum menghadiri kegiatan DYK Cabang Pangkalan Bun tersebut yang menurut jadwal undangan akan dimulai pada pukul 13.00, ia bersama dengan kedua anaknya harus menuju ke Pangkalan Bun dengan menumpang Bus Malam Sampit-Pangkalan Bun.

Selepas usai kegiatan DYK tersebut yakni di pukul 15.00 wib, Lia Agustin dan kedua anaknya ditemani suaminya Apriansyah harus kembali lagi ke Kota Mentaya Sampit untuk kembali melaksanakan tugasnya sebagai Pengajar di hari Seninnya. Namun hal itu tidak bisa disegerakan semata harus mengikuti jadwal Bus Malam yang baru berangkat dari Terminal Pangkalan Bun menuju Sampit di pukul 19.00 wib. Dan Alhamdulillah setelah menempuh waktu selama 5 jam, setelah menembus gelapnya malam, setelah melewati berhektar-hektar hutan sawit dan karet, tepat pukul 00.19 dini hari, Lia Agustin dan keluarga mendarat dengan selamat di rumah idamannya yang beralamat di Perumahan Tidar Sampit.

IMG-20190726-WA0021.jpg

IMG-20190726-WA0010.jpg

Rahayu, istri dari Rahsiannor Syam’ani, S.H.I. Panitera Pengadilan Agama Sukamara, semata ada keperluan lain dan dengan pertimbangan sekali mendayung dua pulau terlampaui, harus berangkat bersama anak sulungnya di Jum’at dini hari dengan menggunakan Taxi/Travel Sukamara-Pangkalan Bun. Ia harus berangkat dini hari karena menuju Pangkalan Bun dengan melewati Jalur/Jalan Kotawaringin Lama (Kolam) yang saat ini sedang dalam pengerjaan oleh Dinas PUPR Propinsi Kalimantan Tengah. Dan kenapa harus berangkat sebelum fajar menyingsing karena mulai pagi pukul 06.00 wib s.d. sore pukul 18.00 wib jalur/jalan Kolam tersebut ditutup semata untuk kelancaran pengerjaan dan atau keselamatan pengendara yang melewati jalur/jalan yang tepat berada di samping sepanjang jalan yang sedang dalam pengerjaan. Dan begitupun yang harus ia lakukan tatkala ia hendak balik dari Pangkalan Bun menuju Sukamara, Kabupaten di mana sekarang ia dengan suami dan anak-anaknya berdomisili.

Igaria, S.Pd.I istri M. Arqom Pamulutan, S.Ag., M.A. Ketua Pengadilan Agama Sukamara, lalu Erni Fatmasari, S.H.I. istri dari Hakim Miftahul Arwani, S.H.I, lalu Vera istri dari Ferry Nurdiansyah, A.Md CPNS Pengadilan Agama Sukamara, bersama anak-anaknya masing-masing, berangkat menuju ke Kota Manis dengan menggunakan Mobil. Di Jum’at pagi hari sekira pukul 07.00 wib rombongan menyusuri Jalan Sukamara-Lamandau-Simpang Runtu-Pangkalan Bun, yang berkelok-kelok dan sebagian jalan berlubang, dengan jarak tempuh sekira 4,5 jam, dengan penuh hati-hati. Vera yang asli Jakarta tersebut seraya berkelakar mengeluarkan pernyataan “Jauh juga ya Sukamara-Pangkalan Bun”. Pernyataan yang wajar keluar karena memang baru kali ini ia menginjakkan kakinya di Bumi Borneo, Kalimantan, Pulau terbesar sedunia.

Di waktu pulang ke Sukamara, dengan pertimbangan adanya keluhan kelelahan dari ibu-ibu dan anak-anak serta pertimbangan pula adanya informasi jalur/jalan Kolam kering dan bisa dilewati mobil, maka rombongan memutuskan untuk pulang menuju Sukamara dengan melewati jalur/jalan Sukamara. Tepat pukul 17.20 wib rombongan berangkat. Jalan dari Bundaran Tudung Saji Pangkalan Bun ke arah Pintu Gerbang pengerjaan jalan memang tampak mulus karena hampir 85% sudah beraspal. Memasuki Pintu Gerbang Alhamdulillah lancar meski harus tetap berhati-hati semata jalan masih tanah, sempit, licin dan tepat di samping-sampingnya tertanam Tiang-Tiang Pancang Beton untuk pembangunan Jalan Kolam itu sendiri. Akan tetapi setelah melewati Jembatan, perjuangan yang sesungguhnya baru dimulai. Rombongan harus ikut mengantri selama sekira 3 jam yakni dari pukul 19.00 wib sampai pukul 22.00 wib karena kebetulan volume kendaran padat dan jalan licin akibat turun hujan meski tidak seberapa deras/lama. Selama 3 jam menunggu di atas Mobil, menunggu jadwal antrian dengan penuh tanda tanya “kira-kira sampai jam berapa ini ?”. Bersitan hati yang wajar pula karena memang selama pengerjaan Jalan Kolam tidak ada di antara Rombongan yang menerabasnya dengan memakai mobil sendiri/pribadi kecuali ada sebagian yang penah melewati Jalur/Jalan Kolam tapi kala itu pun dengan memakai Perahu/Gethek (estafet dengan menaiki Perahu Gethek di sepanjang jalan yang sedang masa pengerjaan).

Dan setelah melalui jalan yang sedikit offroad karena jalan tanah, berlumpur, licin dan lumayan sempit, akhirnya Rombongan bisa keluar dari batas pintu gerbang keluar Kolam dengan selamat. Satu jam perjalanan kemudian, setelah menyusuri gelapnya malam, lebatnya Hutan Sawit, dan sebagian jalan yang masih tanah, tepat pukul 22.55 wib Rombongan tiba di Sukamara, Kota Permata, kota pengabdian kami sebagai Aparatur Peradilan dengan selamat.

Untuk diketahui, kegiatan DYK Cabang Pangkalan Bun di Jum’at siang tanggal 26 Juli 2019 tersebut kebetulan acaranya adalah pembagian Bantuan Dana Bea Siswa (BDBS), maka harus melibatkan anak-anak yang kebetulan mendapatkan beasiswa tersebut. Dan untuk Pengadilan Agama Sukamara mendapatkan kuota 3 anak SD, yakni anak Lia Agustin dan Apriansyah, anak Verra dan Fery Nurdiansyah, dan anak Erma dan Adib Fuady, S.H.I. Panmud Gugatan Pengadilan Agama Sukamara. Olehnya itu di sanalah relevansi kenapa pada kegiatan DYK tersebut mengajak dan melibatkan anak-anak.

IMG-20190726-WA0014.jpg

Para Penerima BDBS dari ketiga Peradilan

Dengan cerita-cerita perjuangan di atas, maka tidak berlebihan kiranya bila menurut kami kehadiran DYK Cabang Pengadilan Agama Sukamara tersebut merupakan sebuah perjuangan menurut kadarnya masing-masing.

Syukurnya perjuangan tersebut terasa menjadi seakan-akan tidak berat, olehnya Erma dan Adib Fuady yang hari itu merelakan dirinya untuk menjadi tuan rumah, merelakan rumahnya untuk menjadi rest area bagi Rombongan DYK Cabang Pengadilan Agama Sukamara, merepotkan diri untuk menyiapkan segala hal ihwal untuk kenyaman Rombogan.

Semoga perjuangan DYK Cabang PA Sukamara di atas menjadi catatan amal kebaikan masing-masing, yang membawa kebaikan bagi dunia akhirat. Amin (arw)



;